Benarkah Hulul dan Ittihad sesat?


Hadratus Syaikh K.H. Hasyim Asy'ari dalam kitab risalah ahlus sunnah wal jama'ah menegaskan bahwa diantara firqah yang termasuk ahli bid'ah adalah yang menyampaikan tentang hulul dan ittihad. Apa itu hulul? Apa itu ittihad? Penjelasan sederhananya, hulul itu artinya masuk, pengertian tekstualnya Allah masuk ke dalam anggota tubuh manusia, atau masuk ke dalam sesuatu, termasuk meyakini Allah ada di langit itu termasuk dalam kategori hulul, karena Allah dianggap masuk ke dalam langit dan itu berarti langit lebih besar dari Allah, sehingga Allah menjadi terbatas dan berada di dalam langit. Jika dipahami seperti ini, maka semua ulama ahlus sunnah wal jama'ah sepakat bahwa pemahaman seperti ini sesat.

Bagaimana dengan ittihad? Ittihad ini artinya dua hal atau lebih yang menyatu sehingga kemudian terjadi persatuan. Makna tekstualnya, Allah dan hamba bersatu sehingga terjadi persatuan seperti bersatunya air dan gula sehingga gula larut dalam air dan menjadi air. Sehingga gula tidak ada yang ada hanyalah air. Atau seperti setetes air yang bercampur dengan lautan yang kemudian, setetes lautan tadi menjadi lenyap dan yang ada hanyalah lautan. Pemahaman seperti ini juga disepakati adalah pemahaman yang sesat menurut para ulama' ahlus sunnah wal jama'ah.

Kita telah tuntas dengan pemahaman tekstual dan dari sudut pandang ini kita sepakati bersama pula bahwa pemahaman seperti ini adalah pemahaman yang menyesatkan. Karena konsekuensi ekstrimnya adalah makhluk dianggap bisa menjadi tuhan dan akibatnya manusia yang telah mencapai pemahaman seperti ini tidak perlu lagi sholat, bahkan tidak perlu lagi terikat aturan syari'at sebab itu adalah aturan yang berlaku untuk makhluk secara umum, sedangkan dia adalah makhluk khusus yang diistimewakan untuk bisa mengenal tuhan sehingga menjadi berbeda dari makhluk lain maka tidak perlu lagi melaksanakan kewajiban-kewajiban agama sebagaimana manusia pada umumnya. Inilah sudut pandang orang-orang yang memaknai sesuatu tanpa ilmu.

Itulah mengapa yang ditegur keras oleh Mbah Yai dalam kitab tersebut adalah jahlatul mutashowwifah (orang-orang bodoh yang mempraktekkan tasawuf - tanpa ilmu). Lain ceritanya dengan para ulama kibar yang menjalani praktek mistisme dan asketisme ini dengan ilmu yang bersanad, sehingga mereka bukan lagi jahlatul mutashowwifah tetapi al-arif billah. Dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari tentu juga masuk dalam kategori tersebut. Dan sudah dapat dipastikan pula bahwa orang yang bodoh berbeda keadaannya dengan orang yang alim. Meskipun ucapan mereka sama, tapi dengan keadaan yang berbeda hukumnya juga menjadi berbeda.

Contoh sederhananya adalah saat seseorang yang bodoh dalam ilmu fiqih mengatakan:

kita tidak perlu shalat

Kemudian orang ini betul-betul tidak sholat di setiap keadaannya. Ini jelas menyesatkan.

Lain halnya dengan seorang bu nyai yang tidak shalat karena sedang halangan yang bertemu tetangga yang dilaporkan sedang halangan juga tapi justru mengenakan mukena untuk bersiap berangkat ke masjid karena ketidaktahuannya terhadap ilmu fiqih, lalu bu nyai tadi menegurnya dengan perkataan:

kita tidak perlu shalat

Kemudian akhirnya tetangganya tadi tidak shalat karena dipahamkan bu nyai bahwa secara fiqih, orang yang sedang berhalangan benar-benar tidak boleh melaksanakan shalat. Namun, saat sudah suci, tentunya kewajiban berlaku kembali.

Kesimpulannya, yang ditegur oleh Mbah Yai adalah orang-orang bodoh yang tidak mau belajar dan sekedar ikut-ikutan tanpa ilmu, malas mempelajari kitab sehingga pemahamannya dangkal dan menyesatkan umat. Adapun orang-orang yang benar-benar alim, terutama para ulama kibar yang memahami suatu perkara tidak hanya secara tekstual tetapi juga kontekstual. 

Maka, bagi mereka yang terpenting adalah esensinya bukan istilahnya. Sebagaimana Syaikh Al-Hallaj yang dituduh berpaham hulul atau Syaikh Abu Yazid Al-Bustami yang dituduh berpaham ittihad itu sebenarnya sebutan-sebutan itu berasal dari orang-orang yang mencoba memahami ungkapan meraka secara tekstual, tanpa ilmu, dan tanpa pemahaman yang mendalam karena mereka sekedar mendengarkan dan tidak benar-benar mengerti keadaan yang dialami oleh para sufi tersebut secara rohani antara para sufi tersebut dengan Allah.

Jika dimaknai secara kontekstual, dengan ilmu yang terintegrasi (syari'at dan hakikat). Maka, jika yang dimaksud hulul dan ittihad itu adalah ekspresi cinta yang tidak dapat diungkapkan dan diterjemahkan dengan kata-kata, maka itu sama saja dengan konsep wahdatul wujud yang syar'i. Dan kita sebagai santri yang berpaham ahlussunah wal jama'ah wajib bagi kita membela para wali. Sebab membela para wali Allah dari berbagai tuduhan keji juga merupakan jihad membela agama dan pemahaman islam ini.

Wallahu A'lam Bis Shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tutorial Majdzub Permanen & Laduni Sejati (Bukan Bisikan Iblis/Setan)

Tutorial Memilih Sahabat Spiritual

Siapakah Ghouts? Kenali ciri-cirinya!